Tuesday, 28 November 2017

Bisnis Sukanto Tanoto Ikut Mencerdaskan Anak Bangsa

Bisnis Sukanto Tanoto Ikut Mencerdaskan Anak Bangsa

Kualitas pendidikan di Indonesia yang buruk rupanya mengusik hati pengusaha Sukanto Tanoto. Pendiri sekaligus chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini berupaya ikut memperbaikinya lewat beragam cara. Ia berharap langkah-langkah tersebut mampu meningkatkan kecerdasan anak bangsa.
Saat ini pendidikan di negeri kita masih berada di level yang rendah. Data yang dipaparkan oleh DW dengan mengacu kepada Indeks Pendidikan UNESCO pada 2017 dapat menjadi rujukan. Di sana terdapat fakta mengenaskan bahwa mutu pendidikan di Indonesia masih kalah di bawah sejumlah negara kecil seperti Samoa, Palestina, maupun Mongolia.
Dalam data tersebut, posisi Indonesia ada di peringkat ke-108 di dunia. Peringkat tersebut didapat setelah negeri kita hanya meraup indeks sebanyak 0,603. Jumlah itu kalah jauh dibanding Singapura yang menembus peringkat kesembilan. Negeri jiran itu memiliki indeks 0,768.
Peringkat Indonesia yang rendah tak lepas dari kondisi pendidikan yang memprihatinkan. Dalam data yang dipaparkan DW tercatat bahwa hanya sekitar 44 persen penduduk negeri kita yang mampu menuntaskan pendidikan di sekolah menengah. Dari para siswa yang sekolah di sana, ada sebelas persen di antaranya yang gagal menempuh bangku sekolah menengah hingga lulus.
Dari kisah tersebut, Sukanto Tanoto termasuk yang mengalaminya. Ia pernah putus sekolah. Gara-garanya sekolahnya ditutup karena ada insiden G30S. Setelah itu, ia pun tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena sang ayah masih berstatus sebagai warga negara asing.
Rupanya kegagalan menempuh pendidikan itu membekas di benak Sukanto Tanoto. Ia merasakan betapa tidak enak ketika  kesulitan  mengakses pendidikan. Padahal, ilmu dari pendidikan merupakan bekal hidup yang sangat penting.
Hal itu pula yang akhirnya membuat Sukanto Tanoto ingin melakukan “balas dendam”. Ia berupaya keras agar orang tidak lagi merasakan kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang dirasakannya pada saat muda.
Ada dua jalan yang diambil oleh Sukanto Tanoto dalam mewujudkan niatnya tersebut. Ia memanfaatkan RGE serta menggandeng yayasan sosial yang didirikannya, Tanoto Foundation.
Lewat perusahaan yang dimilikinya, Sukanto Tanoto berusaha membantu meningkatkan kualitas sekaligus memudahkan akses pendidikan ke semua pihak. Hal itu diwujudkan dalam beragam kegiatan Community Development yang dirancang oleh RGE.
Salah satu contohnya Asian Agri di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi pada Oktober 2017. Bekerja sama dengan Tanoto Foundation, anak perusahaan Sukanto Tanoto yang bergerak di industri kelapa sawit itu membangun perpustakaan sekolah di SDN 159/V Tanjung Benanak di Kecamatan Merlung.
Sebelum membangun, Asian Agri telah melakukan riset dan turun langsung ke lokasi. Itu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan oleh sebuah wilayah dengan tepat.  Dari kegiatan tersebut, diketahui bahwa anak-anak di SDN 158/V memerlukan perpustakaan.
Maka, Asian Agri tak ragu melakukan pembangunan perpustakaan. Kebetulan, Tanoto Foundation sudah berkiprah terlebih dulu di sana. Mereka memberikan bantuan buku-buku sebagai koleksi sekaligus melatih guru dalam pengelolaan perpustakaan.
Asian Agri merasa perpustakaan merupakan hal vital dalam meningkatkan kecerdasan anak. Mereka berharap anak-anak desa di sana mampu memiliki wawasan yang luas meski tinggal di kawasan terpencil.
Mereka mengacu terhadap biografi Sukanto Tanoto. Ia memang putus sekolah dan tidak menempuh pendidikan formal. Namun, pria kelahiran Belawan tersebut tetap bersemangat menuntut ilmu. Ia melakukannya dengan cara rajin membaca apa pun mulai dari buku hingga koran.
“Kualitas pendidikan pedesaan itu penting untuk mewujudkan generasi cerdas desa,” kata Welly Pardede, Head Sustainability Operation & CSR Asian Agri, di Jambi Independent. Menurutnya membangun perpustakaan di desa amat penting. “Anak-anak kita bisa menjadi generasi cerdas desa, yang tidak ketinggalan dengan anak-anak kota,” kata dia.
Berkat dukungan dari Asian Agri, SDN 158/V sudah memiliki perpustakaan yang memadai. Ruangan seluas 6x6 meter telah disulap oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut menjadi perpustakaan yang sebagian ruangannya difungsikan sebagai Unit Kesehatan Sekolah.

MENINGKATKAN KUALITAS PENGAJAR

Sukanto Tanoto

Dalam upaya ikut mencerdaskan anak bangsa, Sukanto Tanoto tak hanya menyasar para siswa. Ia tahu persis pendidikan berkualitas tidak bisa lepas dari mutu para pengajarnya. Itu pula yang membuatnya peduli terhadap kemampuan para guru.
Melalui Tanoto Foundation yang didirikannya, Sukanto Tanoto berusaha membenahi kualitas pengajar. Mereka membuat program yang dinamai sebagai Pelita Guru Mandiri.
Program ini merupakan upaya dari Tanoto Foundation untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru. Langkah yang diambil bermacam-macam. Ada yang dilatih tentang sistem pembelajaran kontekstual yang efektif dan menyenangkan. Ada pula pengajar yang diberi kesempatan untuk meningkatkan pendidikan dengan diberi bantuan beasiswa.
Salah satu contohnya dilakukan Tanoto Foundation pada Desember 2016 di Provinsi Riau. Mereka memberikan beasiswa kepada sebelas orang guru untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi.
Kegiatan ini disambut baik oleh para guru. Mereka memang membutuhkan dukungan untuk menambah tingkat pendidikannya. Misalnya seorang guru PAUD Mutiara Kasih bernama Atin Reni Asih. Ia sangat senang mendapat beasiswa dari Tanoto Foundation. Pasalnya, sebagai ibu tunggal dengan dua orang anak, ia merasa cukup keberatan dalam membiayai kuliah yang ditempuh.
"Saya merasa sangat terbantu sekali dengan beasiswa ini karena selama ini saya sendiri yang mencari uang untuk biaya kuliah saya. Semoga dengan bantuan ini saya bisa menyelesaikan studi dengan cepat tanpa harus memikirkan dana," ujar Reni yang sudah terdaftar sebagai mahasiswa PG-PAUD Universitas Terbuka, semester VI ini di Hallo Riau.
Reni hanya salah satu contoh guru yang mendapat dukungan dari Tanoto Foundation. Hingga Desember 2016, sudah ada 151 orang guru yang memperoleh bantuan beasiswa serupa.
Untuk memperluas jangkauan kegiatan Pelita Guru Mandiri, Tanoto Foundation bermitra dengan 215 sekolah. Akibatnya mereka telah melatih lebih dari 2.200 kepala sekolah dan guru. Bahkan ada 230 guru yang dididik sebagai peer educator (guru yang memiliki kemampuan mendidik guru lain, Red.).
Beasiswa semacam ini juga dibuka oleh perusahaan Tanoto Foundation. Asian Agri dan Grup APRIL membuka beasiswa ikatan kerja. Dalam pelaksanaan, mereka menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation.
Program ini dinamai sebagai Regional Champion Scholarship. Secara khusus, beasiswa hanya terbuka bagi para siswa asal Sumatra Utara, Riau, dan Jambi yang ingin mendapatkan pendidikan jenjang S1.
Oleh Tanoto Foundation, para calon diseleksi. Sesudahnya mereka dapat menempuh kuliah di salah satu dari 28 perguruan tinggi yang menjadi mitra Tanoto Foundation.
Banyak keuntungan yang bisa didapat oleh penerima beasiswa. Mereka tidak hanya mendapat kemudahan biaya pendidikan, namun juga memperoleh uang saku. Bahkan, mereka sudah mendapatkan kepastian berkarier di salah satu anak perusahaan RGE yang didirikan oleh Sukanto Tanoto.
Kegiatan ini diharapkan oleh Sukanto Tanoto mampu mengangkat tingkat pendidikan warga Indonesia. Meski kisah hidup dalam biografi Sukanto Tanoto yang berjuang keras mendapat pendidikan memang inspiratif, namun diharapkan tidak ada lagi yang merasakan kesulitan seperti dia.

No comments:
Write comments